Beberapa tahun yang lalu,aku sering mendengar kata ini di dunia perkuliahanku.
Seringkali dosen-dosen senior mewanti-wanti para calon Psikolog supaya saat mereka buka praktek,mereka tidak terjebak dengan hal ini.
Transferens bukan malpraktek sodara-sodara. Bukan juga praktek terselubung khas mak er*t yang pandai membuat segala sesuatu tampak “magnificent” itu. Transferens adalah suatu perpindahan perasaan yang umumnya bisa terjadi karena hubungan atau pertemuan yang intens dimana proses curhat seringkali terjadi. Hal ini diharamkan kepada Psikolog yang buka praktek konseling karena umumnya karena jam konseling yang bertahap dan pasien yang terus menerus menceritakan pengalaman dan bahkan rahasia terdalamnya, akan membuat salah 1 pihak akan jatuh hati pada pihak yang satunya. Hal itu dianggap tidak sesuai dengan kode etik Psikologi.
Namun yang terjadi..
Aku belum Psikolog sodara-sodara. Aku hanyalah Sarjana Psikologi tapi Transferens itu sudah sering aku lihat dan bahkan terjadi padaku. Umumnya hanya karena sms-an,chattingan dan berlanjut curhat via telpon. Hal itu seringkali diderita oleh para lelaki yang menjungjung tinggi kemaskulinan mereka. Dimana mereka selalu beranggapan bahwa hanya lelaki banci yang suka curhat dan mungkin pake nangis-nangis dalam curhatannya. Alhasil tidak ada yang namanya sharing ato curhat sesama lelaki di dunia mereka. Hal itu cuma dilakukan karena gengsi ato biar tidak dianggap banci.
Tetapi yang terjadi adalah proses Transferens itu sendiri. Tahukah sodara dengan pepatah Jawa yang berbunyi “witing tresna jalaran saka kulina”?. Yaitu awalnya suka oleh karena terbiasa. Apalagi wanita adalah mahluk yang bisa luluh karena terbiasa. Akibatnya, yang rencananya cuma curhat menjadi proses pedekate terselubung.
Awalnya curhat biasa, berkeluh kesah tentang pasangan masing-masing. Namun saat pasangan curhat kita itu memberikan pendapat yang jauh lebih baik atau lebih dewasa atau lebih pengertian dari pasangan kita, yang terjadi adalah kita mulai membandingkan. Antara pacar kita dengan pasangan curhat kita itu. Alhasil semboyan bahwa “rumput tetangga memang selalu lebih hijau” menjadi kenyataan.
Proses transferens ini cukup menakutkan bila terjadi dalam keluarga atau rumah tangga itu sendiri. Saat suami jenuh di rumah, istri hobinya marah-marah, anak-anak yang bertambah besar namun kenakalannya juga bertambah kali lipat dan tugas kantor yang semakin menumpuk. Yang terjadi adalah proses transferens kepada teman sekantor namun yang berbeda jenis kelamin dengan alasan bahwa teman sekantor umumnya bisa mengerti permasalahan di kantor pula. Namun lama-kelamaan teman sekantor itu berubah menjadi WIL atau wanita idaman lain. Ditambah pula jika si teman kantor yang berjenis kelamin wanita itu tidak tegas dengan situasi tersebut. Jangan pernah macam-macam dengan rumah tangga orang lain dengan alasan apapun. Karna karma itu berlaku. Tidak ada jaminan bila pria yang meninggalkan istrinya demi kita, tidak akan meninggalkan kita demi wanita lain juga. It’s a habit, jadi akan menjadi kebiasaan tanpa disadari.
Percaya atau tidak, Transferens ini bisa dipupuk dari masa pacaran. Aku mengalami bahwa saat lelaki yang sudah in relationship menjalin hubungan baik dengan kita. Lanjut dengan menceritakan masalah pribadinya atau yang berhubungan dengan pacarnya. Bila kita menanggapinya dengan baik atau bermaksud baik dengan memberikan pemecahannya, yang terjadi adalah proses transferens itu sendiri. Lelaki tersebut akhirnya menjadi terpesona dengan cara kita menghadapi masalah dan mulai merasa “nyaman” dengan keberadaan kita. WARNING! Ini adalah tanda-tanda bahaya, karna lelaki tersebut mulai merasa ketergantungan terhadap kita dan biasanya akan membandingkan sifat-sifat pasangannya dengan kita. Padahal belum tentu sifat kita jauh lebih baik, karna pada fase ini si lelaki hanya akan melihat kejelekan-kejelekan pasangannya tanpa mengingat hal-hal yang membuatnya jatuh cinta kepada pasangannya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar