aku terdiam,
aku tersadar,
bahwa dalam hidupku, kaya dengan pengalaman..
tapi slama ini aku hanya mengeluh selalu berkekurangan,
manusia ini ternyata masih belum belajar banyak dari setiap adegan dalam naskah hidupnya..
aku tersadar,
bahwa saat pertama kali aku bertemu dengannya dalam sebuah awal hidupku di bangunan biru itu,
ak ga mungkin suka padanya,
bahkan mungkin hanya ketakutan karna memandang tubuh tinggi penuh warna kegelapan itu..
aku hanya anak kecil yang baru keluar dari sarang,
yang mungkin baru saja menangisi indukku yang melepaskanku pergi.
pertemuan demi pertemuan,
aku ga tau bermula dan berawal darimana,
tah dari perebutan kulit bundar atau dari persekutuan dalam hadirat Tuhan,
yang pasti aku mulai belajar mengenal mahluk dengan idealismenya yang tinggi itu,
idealisme yang brusaha menolak kemapanan,
yang awalnya tak kumengerti dan bahkan pernah aku anggap sebagai sebuah penolakan terhadap berkat dari Tuhan.
dia bukan milikku,
itu menjadi 1 hal yang pasti,
bahkan saat orang-orang berpikir bahwa akulah satu-satunya wanita yang lekat dengannya selain”dia”,
karena walaupun aku mengerti isi otaknya tentang beberapa hal,
ak masih saja tak mengerti tentang perasaannya..id, ego dan super egonya..
aku menangis,
pertama kalinya tanpa air mata,
itu karna dia..
karna ucapannya yang tah sadar atau tidak telah dia lontarkan kepadaku,
setelah 104 minggu aku mengenalnya,
“kamu bukan siapa-siapa, dek..jadi bersikaplah seperti orang lain pada umumnya”
ternyata aku sombong,
merasa mengenal dia jauh melebihi siapapun,
merasa berhak untuk menanyakan kabarnya karna saat dia mlakukan hal yang sama, aku akan menjawabnya..penuh dengan sukacita..
dia tak pernah tahu,
bahwa aku sangat menghargai setiap kata yang ia ucapkan padaku,
setiap curhatan yang ia ceritakan padaku,
setiap idealisme dan pemikirannya terhadap banyak hal,
bahkan..
saat aku melihatnya memeluk wanita yang pernah jadi kekasihnya di depan mataku,
saat dia pergi menemui orangtua kekasihnya yang baru,
ak tetap mengasihinya..
tapi ternyata memang aku bukan siapa-siapa,
jadi sekarang aku lepaskan,
aku keringkan benih tanaman yang bernama Cinta Kasih itu,
yang memang harus layu karna Matahari memang milik semua orang,
bukan hanya milik satu bunga yang bernama Lily ini.
Walaupun ak tak berani menjamin apakah benih itu akan tumbuh kembali,
untuk mencoba peruntungannya lagi,
mekar dengan bantuan manusia, serangga atau dengan bantuan angin..
atau mekar karna ingin kembali merasakan panasnya sengatan matahari,
aku tidak tahu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar