..and the cold is never bothering me anymore..

Wrong is wrong, even if everyone is doing it..

Right is right, even if no one is doing it..

Minggu, 27 Desember 2009

Like no air..

Dimana-mana yang namanya pacaran itu adalah proses pembelajaran.
Belajar untuk mengenal karakter baru yang kadang sangat lain dari karakter asli kita.
Belajar empati dan menempatkan diri jika kita dalam posisi yang sama dengan pasangan kita, dan yang paling utama adalah belajar menerima segala kekurangan dan kelebihan.

Umumnya kita hanya bisa menerima bagian yang kedua, yaitu kelebihan.
Kita hanya mau tahu apakah pacar kita ganteng, pintar atau olahragawan.
Tapi kita tidak mau terima bagian yang pertama atau kekurangannya yaitu seandainya pacar kita hobinya flirting, haus kasih sayang atau bahkan jealous-an.

Untuk orang sepertiku yang sudah biasa menjalin hubungan tanpa status, dimana kita tidak punya kewajiban menjaga perasaan pasangan kita, sangatlah susah saat kita sudah memulai hubungan yang serius dalam sebuah ikatan pacaran dimana ada yang namanya komitmen.
Dulu saat tanpa status, kita bisa dengan gampangnya jalan-jalan dengan lelaki yang berbeda baik dengan status teman ataupun "teman". Bisa sms-an dengan semua lelaki yang kita mau tanpa ada yang ngamuk.

Parahnya lagi jika pacar kita juga punya jiwa petualang yang sama dengan kita.
Dulu ada temenku yang bilang bahwa mahluk dengan jiwa petualang adalah mahluk paling "jerk" sedunia, karna bisa dengan mudahnya "buka cabang" dimana-mana.
Lalu bagaimana jika 2 mahluk "jerk" berpasangan??
Rasanya seperti teriris pisau paling tajam sedunia atau seperti jari kita kemasukan duri yang paling halus dimana saat kita pegang rasanya akan perih sekali.
Itu yang kualami saat aku dan pacarku mulai belajar membuka masa lalu kami masing-masing.
Dadaku terasa sesak saat dia mengatakan bahwa dia kecewa aku sms cowo laen saat sedang bersamanya. Walaupun status cowo itu memang hanya teman.
Paru-paruku juga seperti kehabisan udara saat dia mengaku telah mengsms cewe lain dan mengajaknya jalan saat dia stres karenaku, padahal aku aja ga tau apa kesalahanku hingga dia bisa stres karnaku.
Belum lagi jika dia menyindir dengan panggilan sayang dari masalaluku, rasanya seperti hukuman yang tak kunjung usai.

Pernah dia menanyakan apakah aku serius menerimanya.
Apakah aku dalam keadaan sadar saat menjawab IYA.
Apakah aku tidak pernah berpikir telah menerima orang yang salah.
Jujur aku ga pernah berpikir seperti itu.
Aku memang tau sedikit "kisah klasiknya" saat kita pertama kali kenal dan aku kadang ilfil dengan beberapa sifatnya dulu.
Tapi dia adalah orang bisa membuatku belajar percaya.
Suatu hal yang mustahil kulakukan dan kadang aku pikir tidak akan pernah aku lakukan lagi karna pengalamanku yang terdahulu.
Dengannya aku belajar percaya.
Dengannya aku belajar mengakui isi hati.
Dengannya aku belajar jujur pada diriku sendiri.

Aku menghargai dan menyayanginya,
karna dia tidak bukan orang yang plin-plan,
bukan pula orang yang cepat panas cepat dingin,
dimana awalnya aja ngomong suka tapi ga brani untuk memperjuangkan cintanya.

Aku juga ga tau dapet keberanian darimana untuk menerimanya,
karna latar belakang kita yang hampir semuanya berbeda.

But,
bukan aku namanya kalau nyerah gitu aja.
Dia adalah mahluk yang sama denganku.
Dengan sifat petualang yang sama.
Jadi kalau aku bisa menghandle diriku sendiri, berarti aku juga bisa mengusahakan diri untuk menghandlenya.
Pasangan yang baik adalah pasangan yang tidak berusaha mengubah sifat pasangannya,
tapi sama-sama belajar menggunakan kelebihannya masing-masing untuk mengcover kekurangan pasangannya.
Yang aku tau sekarang adalah aku menyayanginya, dan aku terima dia apa adanya.
Dan yang terutama,aku akan berjuang..

Tidak ada komentar: