Aku bahagia,
karna aku tengah berada di tengah-tengah orang-orang yang aku sayang,
aku berinteraksi dengan penuh semangat,
tanpa sadar bahwa mataku menoleh pada sosok itu.
Muka yang kotak,
mata yang menantang,
rambut jabrik yang rada ga jelas,
rahang yang sama,
yang umumnya menunjukkan dari daerah mana dia berasal.
Pria itu asyik berbicara dengan orang-orang disekelilingnya,
seolah tak peduli dengan orang lain yang tak mengenalnya,
sampai mata kami bertemu..
Aku mulai curi-curi pandang,
karna jelas tatapan tadi menggangguku, mengusikku,
Namun aku masih tetap terjaga dalam pembicaraan dengan orang-orang yang aku sayang.
Hingga,
salah satu orang disebelahku menoleh pada pria itu dan berkata “Lae!”
dudukku mulai tak tenang dan aktingku mulai buyar,
karna pria itu mulai pindah mendekati tempat kami duduk.
aku mulai gusar, karna sepertinya lirikanku bersambut.
Sorenya,
pesan asing muncul di hapeku.
Dari pria itu! pekikku dalam hati, tahu darimana dia nomorku?
dengan muka seperti anak kecil yang menemukan es krim,
aku mulai membalas pesan-pesannya dengan penuh semangat.
Pria itu sangat lihai,
dalam merangkai kata maupun dalam mengolah tindakan, pikirku dalam hati.
Bahkan perasaan dan naluriku mengatakan itu,
namun aku ingkari,
karna aku nyaman bersamanya,
menghabiskan sebagian besar waktuku dengannya.
Belum genap 7 hari aku mengenalnya,
tapi dia telah melakukannya,
dengan sangat terampil pula,
kebodohan pun akhirna aku katakan sebagai kepolosan,
untuk mengingkari bahwa aku SALAH.
Akhirna memang benar terjadi,
dia meninggalkanku,
7 hari pula setelah dia melakukan “itu”,
dia berkata akan menyepi dalam “gua-nya”,
dengan alasan bahwa dia hanya bingung,
karna dia seperti baru tersadar bahwa dia hanya bisa menganggap aku sebagai adek.
Walaupun aku sempat berpikir bahwa aku tidak kehilangan apa-apa,
tapi tetap saja aku merasa bodoh!
karna aku kecolongan, meskipun bukan harta paling berhargaku.
dan karna materi-materi psikologi yang aku pelajari di kampus,
seperti tak berfungsi saat aku tengah menghadapinya di dunia nyata.
Kata orang,
pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Memang itu benar,
namun ada juga yang lain ternyata,
yaitu pendapat orang yang mengatakan,
“aku ga sreg dek, sama orang itu”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar