aku mengenalnya,
karna dia orang terdekat dari lelaki yang paling kusayang,
aku mengenalnya,
sebagai pribadi yang sama seperti lelaki yang paling kusayang itu,
bahkan bila tinggi, warna kulit, agama mereka sama..orang pasti mengira mereka kembar..
karena faktor idealisme yang mereka anut belakangan.
Namun,
dia jauh lebih kasar..
dalam berpikir dan juga dalam melontarkan kata-kata,
mungkin juga dalam tindakan,
walaupun aku belum pernah merasakannya.
Dia jauh dari kata sensitif,
kata-kata paling baik yang dia lontarkan setiap mendengar curhatanku, hanya “hmmm…”
itu jauh lebih baik daripada frase lain seperti,
“tampari aja orang itu” atau “mati aja ndut”
seringkali aku sakit hati dan mengeluh,
aku bertanya,”kok kasar banget sih sama aku, padahal cuma aku kan yang tahan denganmu?”
umumnya dia akan menjawab, “iya ee, ya maaf deh..gitu aja ngambek”
Tapi aku sayang dia.
bukan karna aku masokis yaitu golongan orang yang senang disiksa,
bukan karna senang ngeliat dia pasrah dan menyerah saat aku mulai narsis,
bukan karna senang mendengarnya mengucapkan kata-kata “lelaki pada umumnya” yang sebelumnya ga mungkin dia ucapkan,
bukan karna kasihan dengan hidupnya,
tapi karna cuma dia yang mau mencelaku dengan berbagai cara supaya aku sadar dan ga meratapi nasib lagi.
Dia juga membuktikan,
ga hanya sm aku tapi juga dengan orang-orang di sekelilingnya yang selama ini meremehkannya,
bahwa dia dapat hidup karna harapannya,
dan itu membuatku juga brani berharap atas hidupku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar