..and the cold is never bothering me anymore..

Wrong is wrong, even if everyone is doing it..

Right is right, even if no one is doing it..

Jumat, 09 Oktober 2009

Virginity *based on me*


Virginity atau dalam bahasa indonesianya bisa diartikan sebagai keperawanan itu adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Karena menyangkut unsur seksualitas yang sekarang sedang marak-maraknya dicekal oleh Pemerintah. Tetapi tidak untuk masa sekarang. Kenapa bisa begitu? Karena aku tidak bermaksud untuk menuliskan tentang unsur-unsur yang ada di dalamnya, tetapi hanya realita kehidupan yang terjadi saat ini.

Aku tertarik cerita tentang tema ini awalnya karna aku tinggal atau lebih tepatnya menuntut ilmu di sebuah kota yang terkenal dengan pendidikannya. Namun, dari awal aku kuliah di sinipun aku sudah mendengar banyak cerita tentang kehidupan mahasiswanya. Saat masih semester awal, aku dengan semangat ’45 selalu menentang pendapat orang tua + teman-temanku di rumah yang mengatakan bahwa kota tempat aku kuliah itu adalah kota yang bejat, penuh dengan kemaksiatan. Aku tidak terima dikatakan seperti itu, karna aku tidak pernah melihat secuilpun bentuk kemaksiatan itu. Mungkin hal itu bisa terjadi karna aku sudah terlebih dahulu dibentengi oleh ayahku dengan dasar iman yang kuat + kos-kosan yang ditutup gerbangnya pada jam 9 malam dan larangan untuk lelaki masuk ke dalam area kos. Hebat bukan? sudah sangatlah biasa jika aku diejek teman-teman yang berkunjung ke kosku, ”ini kos atau penjara sih, vie?”. Sebenarnya jam malam itu bukan masalah jika aku memang berniat berbuat nakal, karena toh aku sudah beberapa kali pulang larut malam karna ada ulang tahun sahabat atau jadi panitia acara festival band di kampus. Belum lagi mas penjaga kos yang bisa diajak kongkalikong. Namun, buktinya sampai sekarang aku ga pernah berniat melanggar amanat orang tua ataupun merusak kesucianku sendiri. Hal yang klise namun aku dari awal percaya banget kalau kita sendiri aja tidak menghargai tubuh kita, jangan harap bahwa orang lain akan melakukannya untuk kita. Betul kan?


Pendapatku itu akhirnya ditampar keras oleh kenyataan yang ada. Akhirnya aku mengenal sesosok laki-laki yang dengan permintaan maaf, mengaku padaku bahwa dia pernah melakukan ”hal” itu. Dia minta maaf karena saat itu kami sedang dekat. Ditambah pula dengan kenyataan bahwa gaya pacaran salah satu sahabatku juga rentan dengan hal itu. Kemudian juga ada curahan hati sahabatku yang lain yang mengatakan bahwa dia baru saja putus dengan pacarnya karena pacarnya itu baru saja mengaku bahwa dia sering melakukan seks dengan orang lain atau dengan kata lain bahwa dia sudah tidak ”virgin/perjaka” lagi. Ada juga cerita dari temanku dari fakultas lain yang mengatakan bahwa teman-teman 1 kontrakannya juga sering melakukan itu. Umumnya hal itu sering didukung saat pesta tahun baru. Mereka datang ke sebuah tempat pegunungan seperti Puncak, namun lokal daerah kami. Disana mereka melakukan insting hewani mereka dengan wanita-wanita yang bisa mereka beli/sewa di sana. Sungguh hal yang cukup menohok kepolosanku tentang hal-hal semacam itu.


Akhirnya aku bisa menyimpulkan beberapa hal dari kenyataan diatas. Kebejatan atau kemaksiatan di kotaku ini bisa terjadi karena beberapa hal :
1. Faktor pribadi
Dari sumber yang terpercaya, para pria yang melakukan seks bebas umumnya melakukan sebagai fun. Namun ada juga yang melakukan itu karena ingin membuat jera wanita-wanita nakal di sekelilingnya. Akung sekali, hasrat menjadi superhero kok disalurkan dengan cara yang salah.
Sedangkan untuk wanitanya, aku belum mendapat saksi ahli yang cocok. Namun, dari penelitian para ahli, didapatkan bahwa sekalinya wanita melakukan hubungan seks yang sudah pada tahap intercourse maka wanita tersebut akan merasa ketagihan. Apakah betul? aku juga belum tahu, karena aku belum pernah melakukan juga.
2. Faktor lingkungan tempat tinggal
Dalam hal ini adalah dimana kita tinggal selama kita menempuh ilmu di kota ini. Ada banyak bentuk kos-kosan ataupun kontrakan. Ada yang memakai jam malam, ada juga yang tidak. Ada yang tinggal dengan induk semang atau istilah kerennya bapak & ibu kos, namun ada juga yang tidak. Ada pula kos campur, yaitu lantai 1 untuk pria dan lantai 2 untuk wanita. Kemudian juga hunian yang paling banyak dicari adalah kontrakan, dimana sebagai alasan kemandirian pada awalnya karena semua urusan listrik+air+yang lain-lain diurus sendiri namun pada akhirnya hanya sebagai pendukung aliran ”kebebasan”. Semuanya itu bisa mendukung proses terjadinya kemaksiatan. Karena kurang adanya pengawasan dari induk semang maupun tetangga di sekitar kompleks, membuat kebejatan semakin merajalela.
3. Faktor teman-teman bergaul
Mau tidak mau faktor teman adalah faktor yang cukup signifikan. Pepatah yang mengatakan bahwa saat kita bergaul dengan orang yang pandai, kita akan ikutan pandai dan bergaul dengan penjahat akan membuat kita jadi jahat juga, terkadang ada benarnya. Terutama dalam hal yang berhubungan dengan dunia sex. Jangan heran jika anak yang dibanggakan yang dahulunya alim, namun saat beranjak masuk dunia perkuliahan yang seringkali aku sebut dunia bebasnya anak muda tiba-tiba bisa menjadi maniak sex. Bukan hal mustahil terlebih jika mereka bergaul dengan teman-teman yang hobi download bokep di warnet seperti yang sering aku lihat langsung maupun cerita dari teman-teman yang berprofesi sebagai penjaga warnet ataupun yang sering hangout di klab malam dan berakhir di hotel. Memang tidak semua hal bisa digeneralisasikan. Tetap saja ada pertahanan diri pada masing-masing orang, baik berupa kasih sayang keluarga ataupun agama dimana orang tersebut dapat memilih untuk ikut arus atau tetap berpegang teguh pada pendirian awalnya.
4. Faktor keluarga
Faktor keluarga adalah faktor yang paling sering diremehkan namun sejauh yang aku tahu adalah yang paling penting. Aku pernah dengar cerita tentang seorang anak yang menjadi terkenal di kampusnya sebagai ”ayam kampus” padahal dia berasal dari keluarga terhormat dan kaya di seberang pulau. Tentu saja dia mendapatkan segala hal yang dia mau dari orang tuanya, namun yang aku tidak habis pikir adalah alasan dia melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Karena yang aku tahu seringkali profesi itu erat sekali dengan alasan ekonomi. Ada juga cerita dari pacarnya sahabatku yang akhirnya sadar dari dosa seksualnya setelah salah satu orang tuanya meninggal. Sungguh ironi bagi anak muda karna haruskah kita kehilangan orang yang kita cintai dahulu, barulah kita menjadi sadar telah berdosa? Kemudian ada cerita dari teman yang lain dimana sahabatnya tinggal berdua serumah dan bahkan sekamar dengan tunangannya. Aku tidak mau berprasangka dengan apa yang mereka lakukan. Namun aku hanya bertanya-tanya apakah keluarga masing-masing mengetahuinya? ataukah malah keluarganya yang mengusulkan hal tersebut? apakah dalih tunangan dapat melegalkan alasan tinggal berdua dan sekamar tersebut? aku tidak pernah tahu alasannya karena yang aku dapatkan selama ini, tunangan masih bisa putus atau berakhir. Bagaimana perasaan pihak wanita jika dia sudah tidak ”virgin” lagi saat mereka bertengkar hebat yang mengakibatkan putus? bukankah pihak wanita yang akan merugi? selain itu, aku juga memikirkan tetangga sekitar yang pastinya melihat atau bahkan mengetahui peristiwa tinggal serumah tersebut. Ternyata masyarakat sekarang cukup apatis dengan hal-hal semacam ini. Tidak pedulian dan tidak akan ikut campur asalkan bukan anak mereka yang melakukannya atau pasangan tersebut tidak mengganggu kenyamanan kompleks mereka. Kalau begitu, apa gunanya ada ketua RT? apa gunanya juga ada RUU pornografi? semoga pemerintah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ”kecil” semacam ini, sehingga tidak hanya melihat yang kasat mata berbentuk bugil saja. Amin.

Tidak ada komentar: